Teknik Dasar Beladiri Judo

Post a Comment
Teknik Dasar Beladiri Judo

judo

Pernahkah kalian berlatih beladiri judo? Apa yang kalian ketahui tentang olahraga judo? Tahukah kalian bahwa dalam olahraga judo ditanamkan rasa saling menghormati sesama manusia, baik dalam lingkungan maupun luar lingkungan judo. Rasa saling hormat sangat ditekankan bila kalian belajar olahraga ini dengan benar. Begitu masuk lapangan judo (dojo) kita sudah diharuskan menghormat karena kemungkinan di dalam gedung sudah ada para senior atau para pemimpin, baik pelatih maupun pembina. Begitu masuk matras kita harus menghormat lagi. Demikian juga ketika memulai kegiatan latihan dengan sesama kawan (uchikomi atau randori) baik awal maupun sesudahnya. Di dalam judo dikenal dua macam penghormatan, yaitu waktu duduk(zerei) dan waktu berdiri (ritsurei). Nah, bagaimana cara melakukan semua itu? Untuk tahu jawabannya ayo simak uraian berikut dengan saksama !

A. Mengenal Judo

Judo adalah seni beladiri asal Jepang yang secara resmi sudah menjadi salah satu cabang olahraga. Pemain judo disebut judoka atau pejudo. Judo sekarang merupakan sebuah cabang beladiri yang populer, bahkan telah menjadi cabang resmi Olimpiade. Judo dikembangkan dari seni beladiri kuno jepang yang disebut jujutsu atau jujitsu/jiujitsu. Jujutsu yang merupakan seni bertahan dan menyerang menggunakan tangan kosong maupun senjata pendek, dikembangkan menjadi judo oleh Jigoro Kano pada 1882.

1. Perlengkapan Pertandingan

a. Lapangan Judo (dojo)

Lapangan judo disebut dojo beralaskan matras yang disebut tatami. Lapangan judo berbentuk persegi dengan luas tamtami minimal adalah 14 x 14 meter dan maksimal 16 x 16 meter. Daerah pertandingan berukuran minimal 8 x 8 meter dan maksimal 10 x 10 meter. Tiap tamtami berukuran 1 x 2 meter sehingga jumlah tamtami yang dibutuhkan oleh satu dojo sekurang-kurangnya sebanyak 128 lembar ; 18 lembar diantaranya berwarna merah sebagai pembatas daerah pertandingan.

b. Seragam judo (judogi)
judo
Pakaian khusus berwarna putih yang terdiri dari celana dan baju jaket. Celana yang digunakan adalah celana panjang yang cukuplonggar yang mempunyai ketinggian bagian bawah sekitar 5 cm di atas mata kai. Sedangkan baju tebal dan longgar.

1). Jaket (umagi)
Bagian bawah jaket menutupi pantat ketika ikat pinggang dikenakan. Antara ujung lengan dengan pergelangan tangan selisih 5 - 8 cm. Lengan baju panjangnya sedikit lebihnya dari dua pertiga panjang lengan.

2). Celana (shitabaki)
Celana yang dipakai sedikit longgar. Antara ujung celana dan pergelangan kaki selisih 5 - 8 cm. Celana panjangnya sedikit lebihnya dari dua pertiga panjang kaki.

3). Ikat pinggang (obi)
Ikat pinggang harus cukup panjang sehingga menyisakan 20 - 30 cm menjuntai pada masing-masing sisi.

c. Tingkat kelas judoka
Tingkatan kelas judoka dibedakan dengan warna ikat pinggang atau sabuknya. Warna ikat pinggang menunjukkan kyu ataupun "dan". Pemula , kyu kelima dan keempat menggunakan warna putih ; kyu ketiga, kedua, dan pertama menggunakan warna coklat ; warna hitam dipakai oleh judoka yang sudah mencapai tahapan "dan", mulai dari shodan atau "dan pertama", hingga "dan kelima". Judoka dengan tingkatan "dan keenam", hingga "dan kesembilan" menggunakan ikat pinggang kotak-kotak berwarna merah dan putih, walaupun kadang-kadang juga menggunakan warna hitam. Tingkatan teratas, "dan kesepuluh", menggunakan ikat pinggang merah-putih atau merah. Judoka perempuan yang telah mencapai tahap "dan" ke atas memiliki garis putih yang memanjang di bagian tengah ikat pinggang hitam mereka.

2. Peraturan Pertandingan

a. Peraturan kelas pertandingan
Peraturan pertandingan judo dapat diadakan secara perorangan dan juga beregu. Beberapa kompetisi membagi peraturan pertandingan menjadi tiga kategori, yaitu berdasarkan berat tubuh, berdasarkan tingkatan, dan berdasarkan umur. Namun ada juga yang tidak mengenal pembagian apapun.

b. Lama pertandingan
Lama pertandingan judo berlangsung selama 3 - 20 menit.

c. Menentukan pemenang
Pemenang ditentukan dengan jalan judoka yang memperoleh nilai tertinggi. Perolehan nilai yaitu jika seorang judoka dapat membanting atau mengunci lawan.

3. Larangan Dalam Pertandingan
Jumlah larangan-larangan yang tidak boleh dilakukan oleh pejudo adalah untuk putra berjumlah 31 larangan sedangkan untuk pejudo putri ada 32 larangan.

a. Pelanggaran ringan (shido)
Pelanggaran ringan (shido) adalah peringatan untuk pelanggar peraturan yang tidak seberapa berbahayanya. Judoka diberi sanksi berupa peringatan. Jenis-jenis pelanggaran ringan, yaitu sebagai berikut :
1). Seorang judoka kehilangan semangat bertarung dan tidak menyerang selama lebih dari 30 detik.
2). Melepas ikat pinggang lawan atau ikat pinggang sendiri tanpa izin dari juri.
3). Melilit tangan lawan dengan ujung ikat pinggang (atau ujung baju).
4). Memelintir atau berpegang pada ujung lengan baju maupun celana lawan.
5). Memasukkan bagian seragam lawan ke dalam mulut (menggigit seragam lawan).

b. Pelanggaran kecil (chui)
Pelanggaran kecil disebut juga "chui" tergolong lebih berat dari pelanggaran ringan. Sanksi pelanggaran ini berupa peringatan namun lebih berat dari pelanggaran ringan. Pelanggaran ini memiliki efek negatif sebesar yuko. Contoh pelanggaran chui. Yaitu:
1). Memasukkan bagian kaki ke serangan lawan, baik ikat pinggang maupun jaket, selama kuncian dilakukan lawan.
2). Mencoba mematahkan jari lawan untuk melepaskan gengaman lawan.
3). Menendang tanan lawan dengan kaki atau lutut untuk lepas dari cengkraman lawan.

c. Pelanggaran berat
Pelanggaran berat (keikoku) adalah pelanggaran yang dapat dikenai sanksi dan teguran keras. Judoka yang melakukan pelanggaran ini akan dikurangi nilainya sebesar setengah angka. Dua pelanggaran kecil memungkinkan dikenainya sanksi yang sama. Contoh pelanggaran-pelanggaran berat, yaitu :
1). Mengunci lengan lawan (kansetsu waza) dimanapun selain di sikut.
2). Menarik lawan yang tergeletak menengadah ke atas di lantai dan kemudian membantingnya kembali.
3). Seorang judoka melakukan tindakan berbahaya apapun yang bertentangan dengan jiwa judo.

d. Pelanggaran serius (hansoku make)
Pelanggaran serius (hansoku make) adalah pelanggaran yang dapat membuat seorang judoka didiskualifikasi karena melakukan pelanggaran yang sangat berat sehingga membahayakan baik lawannya maupun orang lain. Empat kali peringatan (shido) juga dapat dikenai sanksi.

B. Posisi Tubuh
Posisi tubuh yang benar merupakan bagian yang penting dalam judo. Posisi tubuh dalam judo dapat dibagi menjadi 10 jenis, yaitu penghormatan, sikap persiapan, sikap bertahan, pegangan, sikap langkah, gerak memutar, menghilangkan keseimbangan lawan, sikap melempar yang baik, sikap saat melakukan teknik, dan sikap jatuhan.

1. Penghormatan (rei)
Penghormatan (rei) dalam posisi tubuh yang dilakukan pada saat :

a. sikap berdiri
Cara melakukan sikap berdiri sebagai berikut.
1). Sikap tegak berdiri.
2). Membungkukkan badan ke depan.

b. Sikap duduk (zarei)
judo
Cara melakukan sikap duduk (zarei) sebagai berikut.
1). Kaki kiri dimundurkan, lalu berlutut.
2). Kaki kanan diturunkan ke belakang, berlutut dengan kedua lutut dan jari-jari diluncurkan ke belakang.
3). Bungkukkan badan ke depan, kedua tangan di matras.

2. Sikap Persiapan (shizen)
Sikap persiapan merupakan sikap berdiri biasa (shizentai). Cara melakukan sikap berdiri biasa (shizentai) sebagai berikut.
a. Shizen-hontai : berdiri rileks, kedua kaki dibuka, ibu jari kaki keluar, pandangan ke depan.
b. Migi-shizentai : kaki kanan di depan kurang lebih 30 cm.
c. Hindari-shizentai : kaki kiri di depan kurang lebih 30 cm.

3. Sikap Bertahan
Cara melakukan sikap bertahan sebagai berikut.

a. Berdiri dengan kaki terbuka kurang lebih 60 cm, kedua lutut ditekuk.
b. Jogu-hontai : berdiri tegak, lutut ditekuk, panggul direndahkan, berat badan ke tengah.
c.  Migi-jigotai : kaki kanan dimasukkan ke depan.
d. Hindari-jigotai : kaki kiri dimasukkan ke depan.

4. Pegangan (kumikata)
sikap pegangan judo
Pada sikap shizentai atau jigotai, tangan kiri memegang tangan kanan judogi lawan, tangan kanan memegang kerah (lapel). Kekuatan pada jari kelingking dan jari manis.

5. Sikap Langkah (shintai atau Hakobi-ashi)
Cara melakukan sikap langkah (shintai atau hakobi-ashi) sebagai berikut.
a. Langkah biasa (ayumi-ashi), pada saat melangkah, telapak kaki tidak boleh diangkat dari lantai, tetapi agak sedikit menyeret di lantai.
b. Sambung langkah (tsugi-ashi), yaitu gerakan melangkah kedepan, ke belakang, samping kiri, samping kanan, serong kiri, dan serong kanan.

6. Gerak memutar (tai-sabaki)
Gerak memutar (tai-sabaki), yaitu teknik memutar badan. Cara melakukan gerak memutar (tai-sabaki) sebagai berikut.
a. Mae-sabaki : kaki kiri kedepan, kaki kanan diputar searah kaki kiri.
b. Ushiro-sabaki : kaki belakang mundur dan kaki yang lain diputar searah kaki pertama.
c. Mae-mawas-sabaki : kaki maju silang ke depan dan kaki yang lain ditarik berputar ke belakang.

7. Menghilangkan Keseimbangan Lawan (kuzushi)
Kuzushi adalah cara menghilangkan keseimbangan tubuh lawan sehingga memudahkan bantingan.

8. Sikap Melempar yang Baik (tsukuri)
Tsukuri adalah hubungan posisi badan terhadap posisi badan lawan.

9. Sikap Saat Melakukan Teknik (kake)
Dalam pelaksanaannya harus ada keseimbangan dan berkelanjutan.

10. Sikap Jatuhan (ukemi)
Menguasai teknik ini memungkinkan untuk melindungi diri sendiri ketika dijatuhkan atau dibanting lawan dan mengurangi ketakutan ketika dilempar pleh lawan. Adapun macam-macam sikap jatuhan sebagai berikut.
a. Jatuh kebelakang (ushiro ukemi)
Kaki dan tangan masing-masing disatukan, jatuhkan punggung ke matras dengan tangan lurus di samping tubuh dan telapak tangan menyentuh lantai untuk menahan jatuh.
b. Jatuh ke samping (yoko ukemi)

Dari posisi berdiri, jatuhkan diri kebelakang, angkat kedua kaki satu per satu, kemudian angkat kedua tangan di depan tubuh.
c. Jatuh ke depan (mae ukemi)
Jatuhkan diri ke depan dengan kedua telapak tangan di depan muka, sikut ditekuk.
d. Berguling kedepan (mae mawari ukemi)

Berguna pada saat dilemparkan oleh lawan. Dari posisi berdiri, kaki kanan dimajukan, telapak tangan kiri disentuh ke lantai. Bahu kanan kemudian dilemparkan ke depan dengan telapak tangan menghadap ke belakang, ini dilakukan bersamaan dengan kedua kaki menjejak lantai dan berguling ke depan.

C. Teknik Dasar
Teknik judo terdiri atas tiga jenis, yaitu teknik bantingan, teknik kuncian, dan teknik melepaskan sendi-sendi lawan.

1. Teknik Bantingan

judo
Teknik bantingan judo (nage waza) dapat dibagi menjadi teknik berdiri (tachi waza) dan teknik menjatuhkan diri (sutemi waza). Teknik berdiri dibagi lagi menjadi teknik tangan (te waza), teknik pangkal paha(koshi waza), dan teknik kaki (ashi waza). Teknik menjatuhkan diri dibagi lagi menjadi teknik menjatuhkan diri ke belakang (ma sutemi waza) dan teknik menjatuhkan diri ke samping (yoko sutemi waza).

Dalam penjelasan berikut ini, orang yang menerapkan teknik disebut tori dan orang yang menerima teknik disebut uke. Berikut langkah-langkah gerakan dasar teknik bantingan berdiri dengan teknik pangkal paha (tachi waza-koshi waza).
a. Tori memecah keseimbangan uke dengan menarik badan uke maju ke kanan.
b. Tori kemudian berputar sehingga pinggulnya tepat pada tubuh uke. Pinggul tori sebagai tumpuan kekuatan dalam membanting tubuh uke
c. Dengan menggunakan kaki kanannya tori menyapu kaki kanan uke sehingga beban tubuhnya terlepas dari lantai hingga melayang, dan akhirnya tori dapat melemparkan uke ke lantai.

2. Teknik Kuncian
Teknik kuncian judo (katame waza) dapat dibagi menjadi teknik menahan (osae waza atau osaekomi waza). Teknik menahan dibagi lagi menjadi dua jenis, yaitu kuncian pinggang (kesa gatame) dan kuncian empat sisi atas (kami shiho gatame).

a. Teknik menahan-kuncian pinggang (osae waza atau osaekomi waza-kesagatame)
1). Tori berbaring miring di atas tubuh uke yang telentang sambil memegang lengan uke di ketiaknya.
2). Tori dengan lengan satunya mengunci di sekitar leher uke.
3). Dengan kakinya terbuka dan menekan, tori mengunci uke dalam posisi ini.

b. Teknik menahan-kunci empat sisi atas (osae waza atau osaekomi waza-kamishiho gatame)
judo
1). Tori berbaring dengan tubuh bagian atas di atas dada atau area perut uke.
2). Dalam posisi ini, tori menyodorkan kedua lengan uke ke sisinya, sehingga secara efektif menahan uke ke bawah.

c. Teknik jepit (shime waza)
Dengan lengan disilangkan, tori memegang kedua sisi kearah uke, sehingga dengan otomatis mengunci gerakan kepala.

d. Teknik sambungan (kansetsu waza)
judo
1). Tori berbaring telentang menggenggam salah satu pergelangan tangan uke dengan kedua tangannya, dan kedua pahanya mengunci bagian atas lengan yang terperangkap itu.
2). Lengan ditarik sebagai gerakan kuncian ke siku atau bahu.

3. Teknik Melepaskan Sendi-Sendi Lawan
Teknik menyerang dengan melepaskan sendi-sendi lawan merupakan teknik yang bukan dimaksudkan untuk mencederai lawan, tapi digunakan untuk melumpuhkan lawan agar menyerah. Karena sifatnya yang berbahaya, ate waza tidak digunakan dalam kompetisi atau dalam sesi latihan normal.









beniherawan.xyz
Blogger tapi malas nulis artikel

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter