Langsung ke konten utama

Postingan Terbaru

Cara Membuat Pionering Kaki Tiga Dalam Pramuka

Ramadhan Sebagai Bulan Pendidikan Keluarga

Ramadhan Sebagai Bulan Pendidikan Keluarga

Ramadhan sebagai bulan pendidikan keluarga, ramadhan adalah bulan yang agung dan penuh berkah, bulan yang mempunyai bobot lebih dari sebelas bulan lainnya sehingga disebut sebagai "penghulu segala bulan", bahkan didalamnya terdapat satu malam yang nilainya lebih dari seribu bulan, begitu istimewanya sehingga kita perlu menyediakan waktu khusus yang diisi berbagai macam kegiatan ibadah sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasullulah Saw, dalam kaitan ini, kita perlu menyemarakkan bulan suci ini dengan program-program keluarga islam yang disajikan secara interaktif dan menarik.

Kita sadar bahwa program ini adalah bagian dari tugas mulia bagi orangtua, orangtua tentunya menginginkan keluarganya sukses dan bahagia, bukan hanya didunia melainkan juga diakhirat. Allah SWT, menjanjikan pahala yang sangat besar bagi orangtua yang berusaha mendidik diri dan keluarganya, sebagai mana firman-Nya :

"Yaa ayyuhalladziina aamanuu quu anfusakum wa ahliikum naaraa". yang artinya :
Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kamu dan keluarga-keluarga kamu dari api neraka (QS. At Tahriim).

Rasulullah Saw juga pernah bersabda : "Yang terbaik dari kalian adalah yang paling baik mengurus keluarganya dan diantara kalian semua saya adalah yang terbaik dalam mengurus keluarga" (HR. Imam Bukhari dan Muslim)

Pendidikan Adalah Sebuah Upaya Menanamkan Nilai-Nilai Luhur
Dalam acara seminar pendidikan anak di Washington 1999, pendidikan secara Islam sebenarnya lebih tepat disebut sebagai tarbiyah yang berarti :
  • Mengembangkan
  • Menumbuhkan
  • Menyuburkan
  • Menariknya

Kata tarbiyah ini satu akar dengan kata Rabb (Tuhan), hal ini menunjukan bahwa pendidikan adalah sebuah upaya yang menanamkan nilai-nilai luhur yang menjadi fithrah yang tidak dapat dipisahkan dari serta dipilih-pilih dalam kehidupan manusia, terpisahnya pendidikan dan terpilih-pilihnya bagi bagianya dalam kehidupan manusia berarti terjadi disintegasi dalam kehidupan manusia, hal ini bersifat melahirkan kehidupan yang harmonis.

Agar Anak Tumbuh Subur dan Berkembang

Mendidik (rabba) anak tidak diartikan sebagai "mengerti' (tabdiil) dan bukan pula berarti "mengubah" (taghyiir) kepada anak, akan tetapi upaya untuk menumbuhkan, mengembangkan, dan menyuburkan, atau lebih tepat "mengondisokan" sifat-sifat dasar (fitrah) seorang anak yang telah ada sejak awal penciptaan, tujuannya agar anak dapat tumbuh subur dan berkembang dengan baik, Rasulullah SAW telah memberikan petunjuk bagi kita mengenai tujuan tabiyah itu :

"Setiap bayi dilahirkan dalam kedaan suci (fitrah Islami). Ayah dan ibunyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi (penyembah api dan berhala)" (HR. Al Bukhari).

"Setiap hamba-Ku Aku ciptakan dengan kesiapan menjadi lulus (baik), hanya saja, syetan-syetan menjadikan mereka tergelincir (dalam kesesatan)" (hadist Qudsy).

Pendidikan dalam Islam mengatakan keluarga mempunyai peran penting dalam pendidikan, baik dalam lingkungan masyarakat Islam maupun non-Islam, keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama dimana ia mendapatkan pengaruh dari anggota-anggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam pendidikan anak, yaitu tahun-tahun pertama dalam kehidupan (usia pra-sekolah), pada masa tersebut apa yang ditanamkan dalam diri anak akan sangat membekas sehingga tak mudah hilangatau berubah sesudahnya.

Dari sini, keluarga mempunyai peran besar dalam pembangunan masyarakat, keluarga merupakan batu pondasi bangunan masyarakat dan tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan mempersiapkan personil-personilnya.

"Ketahuila anak kecil merupakan amanat bagi kedua orangtuanya, hatinya yang masih suci merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, ia siap diberi pahatan apapun dan condong kepada apa saja yang disodorkan kepadanya, jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan ia akan tumbuh dalam kebaikan dan berbahagialah kedua orangtuanya di dunia dan akhirat, juga setiap pendidikan dan gurunya. Namun jika dibiasakan kejelekan dan dibiarkan sebagai mana binatak ternak, niscaya akan menjadi jahat dan binasa, dosanya pun akan ditanggung oleh pengguru dan walinya. Oleh karena itu, hendaklah kita memelihara, mendidik, dan membina serta mengajarinya ahlak yang baik, menjaganya dari teman-teman jahat, tidak membiasakannya bersenang-senang, dan tidak pula menjadikannya suka pada kemewahan sehingga akan menghabiskan umurnya untuk mencari hal tersebut jika telah dewasa"

Memberikan Kedisiplinan kepada Anak dan Keluarga

Pendidikan hendaknya dimulai semenjak dini mungkin sehingga tertanam kebiasaan dalam diri anak sejak awal, kebiasaan ini akan didukung oleh kesadaran penuh jika anak telah mencapai tingkat balighnya, sebagai mana Hadits Rasulullah SAW. berikut ini :

"Suruhlah anak-anak kamu shalat jika mereka berumur tujuh tahun. Dan pukullah mereka jika telah berumur sepuluh tahun (dan masih tidak melakukannya)".

Memberikan Kedisiplinan Terhadap Anak dan Keluarga

Pukulan yang disebutkan pada hadits tersebut hendaknya ditafsirkan sesuai dengan situasi tempat kita hidup.

Pertama, tentu pukulan tersebut bukanlah suatu pukulan yang sifatnya "siksaan", melainkan pukulan yang bersifat "didikan" semata.
Kedua, pukulan ini tidak selamanya diartikan dengan pukulan "fisik", melainkan dapat pula diartikan dengan pukulan "psikologis" atau kejiwaan.

Misalnya , jika anak kita senang piknik di hari libur, dan hal ini sudah menjadi kebiasaan keluarga maka jika mereka tidak melakukan kewajibanagamanya (shalatnya) maka kebiasaan ini dapat dihentikan sementara, menghentikan piknik bagi anak-anak yang sudah terbiasa dengannya dapat menjadi pukulan batin bagi mereka.


Menjadi Ayah Yang Hangat Buat Keluarganya

Dari sini mulai dikembangkan konsep orangtua yang baik dan hangat "Dimasa lalu yang namanya ayah itu selalu ditakuti, ia juga figur yang dianggap sebagai penanggungjawab moral keluarga, yang menurunkan nilai-nilai penting pada anaknya, untuk itu, ayah harus menakutkan kalau perlu, ayah tak perlu banyak bicara tetapi anak takut".


Banyak ayah muda masakini di berbagai belahan dunia merasa tidak adil kalau harus jadi sosok yang menakutkan "masa sosok seorang ayah harus ditakuti oleh anak-akannya sehingga ia dijauhi atau jauh dari anak-anaknya," begitu pikir mereka hal ini timbul kesadaran bahwa ayah masakini tidak ingin seperti ayah jaman dulu.

Menurut doktor psikologi bidang perkembangan anak, ayah masakini mungkin lebih cerewet, teatapi jauh lebih dekat dengan anaknya, ayah dapat bermain, bahkan bisa menjadi teman bagi anak-anaknya sendiri, lalu apa peran ayah yang spesifik bagi anak-anaknya ? ayah berperan dalam membangun citra diri anak khususnya, citra diri mengenai kelaki-lakian.

Kedua orangtua diharapkan menunjukan pada anaknya bahwa tanggung jawab keluarga itu memang dipikul bersama-sama, misalnya, mengasuh anak, bernyanyi, bermain dengan anak-anak, artinya, wawasan gender dalam peran laki-laki dan perempuan itu tidak dipersempit, tetapi sebaliknya diperluas.

Tidak menampik pandangan bahwa menjadi ayah moderen sering dihadapkan pada stereotipe tertentu misalnya, kalau anak pegang kepala orang laiin (atau orangtua), hal itu dianggap kurang ajar, apalagi kalau di jawa, memegang kepala itu bisa kewalat, nah untuk menjadi ayah yang hangat, asumsi semacam itu harus diterjang. Oleh karena itu, perlu dikembangkan konsep pertemanan dimana ayah tidak selalu memerintah ataupun melarang dan orantua juga bisa ditegur atau diajak main, salah satu persiapan penting menjadi ayah yang efektif adalah persiapan sebelum anak lahir.

Buku Panduan Ramadhan Untuk Siswa

  

Komentar

Postingan Populer

Kombinasi Gerak Dominan dalam Senam

Kombinasi Gerak Dasar Jalan, Lari, Lompat, dan Lempar

Kombinasi Gerak Dasar Lokomotor, Nonlokomotor, dan Manipulatif dalam Permainan Bola Besar

Dasar-Dasar Penyelamatan Diri di Air

Kombinasi Gerak Dasar Lokomotor, Nonlokomotor, dan Manipulatif dalam Permainan Bola Kecil

Variasi Gerak Dasar Pencak Silat

Soal UAS Penjaskes SD Kelas 5 Semester 2 K13