-->

Pengertian dan Fungsi Pendidikan Kemandirian Diri

Pengertian dan Fungsi Pendidikan Kemandirian Diri - Berbicara soal kewirausahaan, maka kita akan berbicara soal keberanian dan percaya diri, tanpa itu semua rasa-rasanya seseorang tidak akan menjadi wirausahawan yang tangguh dan tahan banting, ketika menghadapi berbagai permasalahan. 

Keberanian mendorong seseorang untuk melakukan hal apapun, baik hal yang positif maupun negatif. Namun yang perlu digaris bawahi di sini, yakni keberanian dalam hal positif (baik), begitu juga dengan percaya diri, sebab keberanian dan percaya diri bagai dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Kemandirian bukan dihafal akan tetapi dilakukan. Salah satunya yang menjadi bayangan penulis yakni, disaat teman-temannya yang lain pergi ke kantin pada jam istirahat, membeli makanan yang mereka sukai/ inginkan, berjalan-jalan dengan pasangannya (pacaran), kadang terlihat juga siswa di zaman sekarang yang sibuk dengan HPnya, laptop, bermain game, yang semua itu berasal dari uang orangtuanya, serta lihatlah betapa bangganya mereka memamerkan barang yang dibelikan orang tuanya untuk diperlihatkan kepada teman-teman yang lain.

Lihat pula meraka (siswa) yang membawa sepeda motor dengan bangga, padahal itu semua pemberian dari orang tuanya. Mereka seakan mengatakan saya adalah putera dari bapak ini, tidak mengatakan saya adalah saya, memang saya putera bapak itu, namun saya lebih bangga jika saya dikenal karena prestasi saya sendiri, bukan karena bapak saya seorang yang terkenal atau orang kaya. Satu dari sekian banyak siswa yang mampu mengatakan saya adalah saya, yakni siswa yang mampu dan berani mengambil resiko dengan cara berjualan, padahal di sisi lain teman-temannya sedang asyik bemain. Kewirausahaan memang tidak 100% hasil dari pembelajaran kewirausahaan, namun kewirausahaan juga bukan 100 % hanya bermodalkan bakat tanpa action. Kekurangan dari pendidikan di Indonesia yakni kurang tersentuhnya jiwa kewirausahaan yang ada dalam diri anak didik. Seakan pedagang atau penjual itu golongan orang hina atau rendah, padahal tidak sama sekali, justru penjual itu mulia, bukankah baginda Rasul juga pedagang?

Jangan malu untuk berwirausaha baik sekarang maupun dikemuadian hari. Sepuluh pintu rezeki itu, sembilan diantaranya didapatkan dengan cara berniaga, berbisnis, dan satu dengan penjadi pegawai, tentunya bisnis di sini, dilandasi dengan kejujuran dan nilai diri penjual yang baik. Salah satu jalan yang menjadi Indonesia bangkit dari keterpurukannya adalah pupuk terus jiwa kewirausaan anak didik dilandasi dengan nilai karakter tinggi.  Jangan jadikan anak didik bercita-cita menjadi pegawai. Masa depan bangsa dipundak generasi muda saat ini.

Related Posts

Subscribe Our Newsletter