-->

11 Pahlawan yang Menentang Penjajahan Belanda

Perjuangan Melawan Penjajah

Banyak bangsa asing yang ingin menguasai kekayaan alam dan tanah air Nusantara. Awalnya, bangsa-bangsa asing itu hanya ingin berdagang. Karena mereka tertarik untuk mendapatkan keuntungan yang sangat banyak, mereka ingin menguasai semuanya. Bangsa asing yang datang ke Indonesia adalah Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda. Portugis mendarat di Kepulauan Maluku yang kaya akan rempah-rempah. Mereka mendarat pada tahun 1511 M yang dipimpin oleh Alfonso de Albuquerque. Mereka mulai berdagang dengan penduduk pribumi. Lalu, Spanyol juga datang ke Maluku dengan tujuan yang sama pada tahun 1521 M. Portugis menjadi penguasa perdagangan rempah-rempah di maluku, sampai datangnya bangsa Belanda.

Penjajahan Belanda di Indonesia

VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) adalah perserikatan Dagang Hindia Timur. Tujuan utama VOC adalah mempertahankan monopolinya terhadap perdagangan rempah-rempah di Indonesia. Setelah VOC dibubarkan, Pemerintah Belanda mengambil alih daerah jajahan VOC dan menunjuk seorang gubernur jenderal untuk menanganinya. Gubernur Jenderal Belanda, Hermann Willem Deandels mengeluarkan kebijakan yang menguntungkan pemerintah Belanda. Ia membuat proyek jalan pos yang menghubungkan kota-kota dari Anyer hingga Panarukan. Sementara itu, Gubernur Jenderal Van den Bosc memberlakukan kebijakan cultuurstelsel atau yang kita kenal sekarang sistem tanam paksa yang bertujuan memperoleh pendapatan sebanyak-banyaknya dari Indonesia dalam waktu singkat. Namun, kebijakan ini ditentang oleh seorang penulis Belanda, Eduard Douwes Dekker yang dikenal pula dengan nama pena Multatuli. Ia tidak setuju dengan sistem tanam paksa karena menyebabkan penderitaan bagi rakyat Indonesia.

Pahlawan yang Menentang Penjajahan Belanda

Bangsa-bangsa asing datang ke Indonesia menguras kekayaan alam dan menyengsarakan rakyat Indonesia. Kesengsaraan rakyat akibat penjajahan bangsa asing sudah dirasakan cukup lama. Oleh karena itu, muncullah perlawanan terhadap penjajahan di berbagai daerah di Indonesia, yang dipimpin oleh tokoh-tokoh berikut ini.

1. Sultan Agung Hanyokrokusumo adalah pejuang yang juga merupakan raja Mataram Islam. Pada tahun 1628 M, Sultan Agung mengirim pasukan perang ke Batavia Dengan 20.000 pasukan dan 60 kapal, Sultan Agung berusaha mengalahkan VOC yang ada di dalam benteng. Sultan Agung wafat pada tahun 1645 M dan digantikan putranya yang bergelar Amangkurat I.

2. Sultan Ageng Tirtayasa adalah raja banten yang memerintah dari tahun 1650-1683 M. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Banten mencapai puncak kejayaannya. Sultan Ageng Tirtayasa mendukung perlawanan kerajaan Mataram terhadap Belanda di Batavia. Ia juga memerintahkan pasukannya untuk melawan Belanda dan merusak perkebunan tebu milik Belanda di Ciangke.

3. Sultan Hasanuddin lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 januari 1631, Ia adalah Raja Gowa ke-16, Sultan Hasanuddin memerintah Kerajaan Gowa ketika belanda yang diwakili VOC sedang berusaha menguasai perdagangan rempah-rempah. Gowa merupakan kerajaan besar di wilayah timur Indonesia yang menguasai jalur perdagangan. Pada tahun 1666 M, di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman, VOC berusaha menundukkan kerajaan-kerajaan kecil, tetapi belum berhasil menundukkan Gowa. Sultan Hasanuddin memberikan perlawanan sengit kepada VOC. Bantuan tentara dari luar pun dikerahkan untuk menambah kekuatan pasukan VOC hingga akhirnya VOC berhasil menerobos benteng terkuat Gowa, yaitu benteng Sombaopu pada 12 juni 1669. Sultan Hasanuddin wafat pada 12 Juni 1670. Karena keberaniannya, ia dijuluki De Haantjes van Het Oosten oleh Belanda, yang artinya Ayam Jantan atau Ayam jago dari Benua Timur.

4. Untung Surapati adalah pejuang dari Bali. Ia adalah seorang anak rakyat jelata dan budak VOC yang kemudian menjadi seorang bangsawan dan tumenggung (Bupati). Perlawanan Untung Surapati mulai berkobar di Jawa barat kemudian diteruskan di Jawa tengah dan selanjutnya ke Jawa Timur. Tahun 1678 M, Belanda mengirim Mayor Tack dan anak buahnya yang berjumlah tujuh puluh justru terbunuh. Untung Surapati wafat dalam pertempuran melawan Belanda pada 5 Desember 1706 di Bangil, Jawa Timur.

5. Pattimura atau Thomas Matulessy adalah pejuang dari Maluku. Beliau dilahirkan di Maluku pada tahun 1783 M. Pada masa remaja, ia pernah memasuki dinas militer Inggris saat Inggris menguasai Indonesia. Setelah Maluku dikuasai kembali oleh Belanda, Ambon mulai bergejolak. Pasukan Belanda yang dipimpin Mayor Beetjes dan 242 prajurit dihabisi Pattimura saat mendarat di pantai Wae Sisil. Pada 16 mei 1817, Pattimura memimpin rakyat Maluku menyerbu pos Belanda dan berhasil merebut Benteng Duurstede. Sayangnya, Pattimura berhasil ditangkap Belanda kemudian dihukum gantung di Ambon pada 16 Desember 1817.

6. Tuanku Imam Bonjol adalah pejuang asal Sumatera Barat yang berperang melawan Belanda dalam Perang Padri. Perang Padri berkobar dari tahun 1821 hingga tahun 1837 M. Dalam menghadapi perlawanan Tuanku Imam Bonjol, Belanda menerapkan siasat adu domba. Belanda mengirimkan pasukan dari Jawa di bawah pimpinan Sentot Prawiradirja. Namun, siasat ini tidak berhasil Sentot malah turut serta melawan Belanda. Akhirnya, Belanda melancarkan serangan secara terus-menerus terhadap kota Bonjol. Pada 25 Oktober 1837 , Tuanku Imam Bonjol menyerah. Tuanku Imam Bonjol wafat pada tahun 1864 di Lotak, dekat Manado.

7. Pangeran Diponegoro adalah pejuang yang berasal dari Jawa Tengah. Pangeran  Diponegoro melakukan perlawanan pada tahun 1825 sampai tahun 1830 M dengan pusat pertahanan di Goa Selaro. Dalam pertempuran ini beliau menggunakan siasat perang gerilya. Siasat ini berhasil mengacaukan Belanda sehingga banyak pasukan Belanda yang berhasil dikalahkan. Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda dalam suatu perundingan. Beliau diasingkan ke Makassar sampai akhirnya meninggal dunia pada 8 Januari 1855.

8. Pangeran Antasari adalah pejuang yang berasal dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ia memimpin Perang Banjar dari tahun 1859-1862 M. Perang Banjar membawa kerugian bagi Belanda. Belanda kehilangan 204 perwiranya dan sekitar 1.000 prajurit luka berat. Berkat keberhasilannya memimpin perlawanan, Pangeran Antasari diangkat sebagai pemimpin agama tertinggi dengan gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin. Pangeran Antasari terus berjuang hingga akhir hidupnya pada tanggal 11 Oktober 1862.

9. Teuku Umar adalah pahlawan yang memimpin pasukan gerilya dalam Perang Aceh pada tahun 1837 M. Teuku Umar berjuang dengan cara berpura-pura bekerja sama dengan Belanda. Ia melawan belanda ketika telah mengumpulkan senjata dan uang yang cukup banyak. teuku Umar wafat di Meulaboh, pada tanggal 11 februari 1899.

10. Cut Nyak Dien adalah salah satu tokoh pejuang Aceh. Istri Teuku Umar ini dijuluki Srikandi Indonesia karena kegigihannya melawan Belanda. Karena kewalahan menghadapi pejuang-pejuang Aceh, Belanda meminta bantuan Dr. Snouck Hurgronje. Ia menyamar sebagai ulama dengan nama Abdul Gafar. Ia menyarankan taktik memecah-belah dan mengadu domba antara kaum ulama dan kaum bangsawan. Akhirnya, Aceh berhasil dikuasai Belanda. Cut Nyak Dien ditangkap dan diasingkan ke Sumedang. Cut Nyak Dien wafat pada tanggal 6 november 1908.

11. Sisingamangaraja XII adalah raja Batak, pemimpin perlawanan rakyat Batak terhadap kekuasaan Belanda di daerah Tapanuli. Pada tahun 1878 M, Sisingamangaraja XII mulai menyerang pos-pos pertahanan Belanda yang ada di Balige dan Tarutung. Selanjutnya pada tahun 1884 M, perlawanan diteruskan ke pos pertahanan Belanda di Tangga Batu, sibolga. Akibat serangan itu, pasukan Belanda mengalami kerugian sangat besar . Belanda mengepung Sisingamangaraja XII yang bertahan di benteng Parik Sabungan Pearaja Sion Parlilitan. Belanda menawan permaisuri dan keluarganya untuk memancing Sisingamangaraja XII keluar dari benteng pertahanannya. Sisingamangaraja XII akhirnya gugur ditembak pasukan Belanda pada 17 Juni 1907.





Related Posts

Subscribe Our Newsletter