7 Kerajaan Bercorak Islam di Nusantara

1 komentar

Kerajaan Bercorak Islam


1. Kerajaan Samudra Pasai

Kerajaan Samudra Pasai merupakan kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan ini berdiri pada abad ke 13 M di Lhokseumawe, Aceh, raja pertamanya adalah Menrah silu atau lebih dikenal sebagai Sultan Malik As-Saleh. Mata pencaharian utama rakyatnya adalah dari perdagangan dan pelayaran. Lokasinya yang berada di jalur perdagangan antara India dan Cina membuat kerajaan ini menjadi pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam.

Pada tahun 1361 M, saat dibawah kepemimpinan Raja Zainal Abidin, Kerajaan Samudra ditaklukkan oleh Majapahit dan pusat pemerintahan dipindahkan dari Samudra ke Pasai. Sejak itu, nama Kerajaan Samudra digabung dengan Pasai, maka nama yang terkenal kemudian adalah Samudra Pasai.

Peninggalan sejarah Kerajaan Samudra Pasai antara lain :

  • Batu nisan Sultan Malik As-Saleh
  • Bekas kerajaan di sebelah timur Lhokseumawe
  • Lonceng Cakra Donya, hadiah dari Kaisar Cina yang dibawa oleh Laksamana Cheng Ho pada tahun 1414 M.

2. Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore

Pada abad ke 13 M, terdapat dua kerajaan Islam di wilayah Maluku, yaitu Kesultanan Ternate dan Kesultanan Tidore. Kedua kerajaan ini bersaing dalam memperluas wilayah kekuasaan dan perdagangan.

Kesultanan Ternate berpusat di Sampalu, Pulau Ternate, wilayah kekuasaannya meliputi Bacan, Obi, seram, Ambon, dan beberapa Pulau di Filipina sekarang. Raja pertamanya adalah Sultan Zainal Abidin yang memerintah sejak tahun 1486 hingga 1500 M, Ternate mengalami kemajuan yang pesat pada masa kepemimpinan Sultan Baabullah. Beliau juga berhasil mengusir Portugis dan Spanyol dari daerah Maliku. Persekutuan Kesultanan Ternate dikenal dengan nama Uli Lima (Persekutuan Lima). Peninggalan sejarah Kesultanan Ternate antara lain Istana Sultan Ternate, Benteng Kesultanan Ternate, dan Masjid Besar Sultan Ternate.

Di selatan Kesultanan ternate terdapat Kesultanan Tidore. Berpusat di Kota tidore sekarang, wilayah kekuasaannya meliputi Pulau Seram, Jailolo (Halmahera sekarang), Makian, dan Pulau-pulau besar lainnya hingga ke Papua. Persekutuan Tidore dikenal juga dengan nama Uli Siwa (Persekutuan Sembilan). Raja pertamanya adalah sultan Mansur, namun kesultanan ini baru mencapai masa keemasan pada masa pemerintahan Sultan Nuku. Peninggalan sejarah di kesultanan ini antara lain reruntuhan Istana Kesultanan Tidore dan benteng-benteng pertahanan spanyol.

3. Kerajaan Aceh

Kerajaan Aceh terletak di tepi Selat Malaka. Kerajaan ini berdiri pada abad ke 16 M dan berpusat di Kutaraja (Banda Aceh sekarang) . Raja pertamanya adalah Sultan Ali Mughayat Syah yang memerintah pada tahun 1514 hingga 1528 M. Beliau berhasil memperluas kekuasaan Kerajaan Aceh hingga ke Pasai, Deli, dan Arun. Raja lain yang pernah memerintah di Kerajaan Aceh antara lain Salahuddin (1530-1537 M), Alauddin Riayat Syah (Al-Qahhar/yang penguasa), dan Iskandar Muda (1607-1636 M)

Pada masa kepemimpinan Sultan Iskandar Muda, Kerajaan Aceh mencapai puncak kejayaan. Ia berhasil memperluas wilayah kekuasaannya ke hampir seluruh Sumatera, Johor, Pahang, dan Kedah.

Peninggalan sejarah Kerajaan Acehantara lain Masjid Raya Baiturrahman yang berada di Banda Aceh dan karya sastra berjudul Bustanussalatin karya Nuruddin Ar-Raniri.

4. Kerajaan Demak

Demak merupakan kerajaan Islam pertama di Jawa dan terletak di Bintoro, Demak. Sebelumnya, Demak adalah salah satu kadipaten di Kerajaan Majapahit.

Raja pertamanya adalah Raden Patah yang memerintah sejak tahun 1481 hingga 1518 M. Di bawah kepemimpinannya, dan dengan dukungan para ulama, terutama Wali Songo, Kerajaan Demak berkembang dengan pesat. Demak mencapai puncak kejayaannya pada masa kepemimpinan Sultan Trenggono, di sekitar tahun 1521 M. Pada masa itu wilayah kekuasaan Demak meliputi Jawa, Kalimantan Selatan, Palembang, dan daerah di sekitar Selat Malaka.

Peninggalan sejarah Kerajaan Demak antara lain :
  • Masjid Agung Demak
  • Piring Champa
  • Pintu Bledeg/Pintu Petir
  • Dampar Kencana
  • Makam Kadilangu
  • Makam Kasepuhan
  • Bedug dan kentongan berbentuk kuda

5. Kesultanan Pajang

Kesultanan Pajang adalah kelanjutan dari kerajaan Demak. Kesultanan ini berdiri setelah Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir), ipar Sultan Trenggono, memindahkan ibu kota kerajaan dari Demak ke Pajang. sultan Hadiwijaya Memerintah dari tahun 1549 hingga 1582 M. Saat beliau wafat, terjadi perebutan kekuasaan di Kesultanan Pajang, namun berhasil diselesaikan oleh Sutawijaya yang merupakan anak angkat Hadiwijaya.

6. Kerajaan Mataram Islam

Setelah berhasil mengatasi perselisihan di Kerajaan Pajang, Sutawijaya memindahkan pusat kerajaan ke Mataram yang terletak di kota Gede, Yogyakarta, dan menandai berdirinya Kerajaan Mataram Islam. Sutawijaya menjadi raja pertama dengan gelar Panembahan Senopati dan memerintah dari tahun 1586 hingga 1601 M. Namun, Kerajaan Mataram Islam mencapai kejayaan pada masa kepemimpinan Sultan Agung (Raden Mas Rangsang) yang mulai bertakhta pada tahun 1631 m. 

Peninggalan sejarah kerajaan ini antara lain Kitab sastra Gending karangan Sultan Agung, sistem kalender Jawa, dan Pemakaman Raja di Imogiri.

7. Kerajaan Banten

Kerajaan Banten berpusat di Serang. Banten merupakan pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat. Raja Pertamanya adalah Sultan Hasanuddin yang memerintah dari tahun 1552 hingga 1570 M. Di bawah kepemimpinannya, Banten berhasil menguasai Lampung yang merupakan daerah penghasil rempah-rempah dan Selat Sunda yang merupakan jalur perdagangan. Beliau juga membangun Pelabuhan Banten sehingga kerajaan ini menjadi pusat perdagangan yang ramai dikunjungi pedagang asing. 

Raja Banten yang dikenal karena perjuangannya melawan Belanda adalah Sultan Ageng Tirtayasa. Beliau memerintahkan perlawanan kepada Belanda yang dianggap menghambat perkembangan perdagangan rakyat Banten. Namun pada tahun 1683 M, Sultan Ageng Tirtayasa ditangkapoleh Belanda dan dipenjarakan di Batavia.

Peninggalan sejarah Kerajaan Banten yang masih ada dan berdiri kokoh hingga saat ini adalah Masjid Banten yang didirikan pada tahun 1566 M. Peninggalan Kerajaan Banten lainnya adalah Keraton Surosowan, Benteng Speelwijk, Meriam Kuno Ki Amuk, dan Pelabuhan Karangantu.






Related Posts

1 komentar

  1. Rasanya jadi teringat pelajaran sejarah di sekolah dulu. Sekarang udah gk susah lagi ya belajar bisa dimana saja lewat internet
    Salam kenal juga gan btw ✌

    BalasHapus

Posting Komentar