6 Pertempuran Untuk Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia

Posting Komentar
Setelah kekalahan Jepang, Sekutu mengambil alih semua daerah jajahan Jepang, termasuk Indonesia. oleh sebab itu, bangsa Indonesia bertekad untuk mempertahankan kemerdekaan dengan berjuang mengusir kembali bangsa asing yang ingin menjajah Indonesia. Berbagai pertempuran terjadi di beberapa daerah di Indonesia dalam rangka mempertahankan kemerdekaan.

1. Pertempuran 10 November di Surabaya

Sekutu datang ke Indonesia untuk melucuti tentara Jepang. namun, kedatangannya disertai oleh tentara NICA (Nederland Indies Civil Administration). Tentara NICA adalah tentara Belanda yang memiliki misi untuk kembali menguasai Indonesia. Pusat pemerintahannya berada di Australia. Tentara sekutu memerintahkan agar rakyat Surabaya menyerahkan senjatanya. Rakyat Surabaya menolak ultimatum tersebut sehingga sekutu menyerang Surabaya. Pada tanggal 10 November 1945, Surabaya diserang dari darat, laut, dan udara. Pertempuran hebat pun terjadi. Di bawah pimpinan Bung Tomo, rakyat Surabaya dengan gigih dan gagah berani bertempur melawan Sekutu yang lengkap persenjataannya. Kota Surabaya dapat dipertahankan selama tiga minggu. Namun akhirnya, pejuang surabaya menyingkir ke luar kota dan mulai melakukan perang gerilya.

2. Pertempuran Lima Hari di Semarang

Pada tanggal 14-18 Oktober 1945, di Semarang terjadi pertempuran hebat antara pejuang Indonesia melawan tentara Jepang. Pertempuran itu kemudian dikenal dengan nama Pertempuran Lima Hari. Untuk memperingati Pertempuran Lima Hari, maka dibangun sebuah tugu yang dinamakan Tugu Muda. Pembangunan Tugu Muda bertujuan untuk mengenang jasa pahlawan yang gugur di medan perang. Selain itu, di Semarang juga dibangun Rumah Sakit Dr. Kariadi. Hal ini dilakukan untuk mengenang jasa-jasa Dr. Kariadi.

3. Pertempuran Ambarawa

Pertempuran melawan sekutu juga terjadi di Ambarawa. Pertempuran ambarawa dimulai pada tanggal 20 November 1945, antara pasukan Tentara Keamanan Rakyat melawan Sekutu. Pada tanggal 26 November 1945, Letnan Kolonel Isdiman yang memimpin pasukan TKR gugur. Kemudian, pasukan dipimpin oleh Kolonel Sudiman, panglima divisi di wilayah Purwokerto. Pada tanggal 12 Desember 1945 , pasukan Indonesia mengepung Sekutu dari segala arah. Akhirnya pada tanggal 15 Desember 1945, pasukan Sekutu dapat dipukul mundur dan meninggalkan kota Ambarawa. Untuk mengenang jasa para pahlawan yang gugur dalam Pertempuran Ambarawa, dibangunlah Monumen Palagan Ambarawa.

4. Pertempuran Medan Area

Pertempuran di Medan terjadi pada tanggal 10 Desember 1945 antara Belanda yang dibantu sekutu melawan pasukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat). Pertempuran ini berawal ketika pasukan Sekutu yang di pimpin oleh Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly tiba di Medan pada tanggal 9 Oktober 1945. Tujuan kedatangan mereka adalah untuk membebaskan tawanan Belanda. Namun, tanpa sepengetahuan pemerintah Indonesia, Sekutu mempersenjatai tawanan Belanda dan membentuk pasukan "Medan Batalyon KNIL". Kedatangan pasukan Sekutu juga disertai pasukan NICA. pertempuran besar pun terjadi antara pasukan TKR dengan sekutu sejak tanggal 13 Oktober 1945. Pasukan TKR saat itu dipimpin oleh Kolonel Achmad Tahir.

5. Pertempuran Bandung Lautan Api

Pasukan sekutu datang ke Bandung sekitar Oktober 1945. Saat itu, para pejuang Bandung sedang melucuti senjata Jepang. Pasukan Sekutu mengeluarkan ultimatum agar Bandung bagian utara dikosongkan paling lambat 29 November 1945. Peringatan itu tidak dipatuhi oleh rakyat Bandung sehingga sering terjadi bentrokan senjata. Pada tanggal 23 Maret 1946, datang perintah dari pemerintah Indonesia di Jakarta untuk mengosongkan kota Bandung. Dengan berat hati pejuang melaksanakan perintah tersebut. Namun sebelumnya, mereka membumihanguskan Bandung bagian selatan supaya Sekutu tidak dapat memanfaatkan bangunan-bangunan yang ada di Bandung. Dalam peristiwa Bandung Lautan api ini, gugur seorang tokoh pejuang yang bernama Mohammad Toha.

6. Pertempuran Puputan Margarana

Pertempuran masyarakat Bali yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah Rai pada tanggal 20 November 1946 dikenal sebagai Puputan Margarana. pertempuran ini terjadi karena I Gusti Ngurah Rai diminta untuk mendukung pembentukan negara boneka di wilayah timur Indonesia. Ia menolak dengan tegas. Ia dan pasukannya bertempur habis-habisan di daerah Margarana. Sayangnya, karena persenjataan yang tidak seimbang, I Gusti Ngurah rai beserta pasukannya dapat dikalahkan oleh Belanda. Dalam pertempuran itu. I Gusti Ngurah Rai dan seluruh pasukannya gugur. Untuk mengenang jasa  I Gusti Ngurah Rai, maka namanya diabadikan sebagai nama bandar udara internasional di Bali.

Berikut ini adalah peristiwa-peristiwa penting lainnya pada masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

1. Perjanjian Linggarjati

Karena pertempuran yang tidak kunjung berhenti, maka diadakanlah perundingan antara Indonesia dengan Belanda. Perundingan dilaksanakan pada tanggal 10-15 November 1946 di Linggarjati, sebelah selatan Cirebon. Pihak Indonesia dipimpin oleh Perdana Menteri Sutan Syahrir, sedangkan pihak Belanda dipimpin oleh Van Mook. Sayangnya, perundingan yang resmi ditandatangani pada tanggal 25 Maret 1947 itu merugikan pihak Indonesia.

2. Agresi Militer Belanda I

Agresi Militer belanda I terjadi pada tanggal 21 Juli 1947. Peristiwa penyerangan ini terjadi ketika Belanda melakukan serangan secara serentak terhadap wilayah-wilayah Indonesia. dengan persenjataan yang lengkap, Belanda menggempur Pulau Jawa dan sumatera. Pejuang Indonesia melawan belanda menggunakan teknik perang gerilya. Taktik perang gerilya adalah cara menyerang musuh secara tiba-tiba, lalu dengan cepat menyingkir sebelum musuh sempat membalas.

3. Perjanjian Renville

Agresi Militer Belanda mendapat kecaman dan protes dari dunia internasional. Wakil-wakil dari India dan Australia di PBB mengusulkan agar persoalan Indonesia-Belanda dibawa ke Dewan Keamanan PBB. PBB kemudian membentuk Komite Tiga Negara (KTN) untuk membantu menyelesaikan masalah Indonesia-Belanda. Komisi ini terdiri dari tiga negara, yaitu Australia (dipilih oleh Indonesia), Belgia (dipilih oleh Belanda), dan Amerika Serikat (dipilih oleh Australia dan Belgia). Selanjutnya, diadakan perjanjian di atas Kapal Renville milik Angkatan Laut Amerika Serikat. Perjanjian Renville ditandatangani pada tanggal 17 januari 1948. Sayangnya, perjanjian itu memperkecil wilayah Indonesia. 

4. Agresi Militer Belanda II

Agresi Militer Belanda II terjadi pada tanggal 19 Desember 1948. Serangan dilancarkan sejak pukul 06.00 oleh pasukan terjun payung Belanda di Lapangan Terbang Maguwo, Yogyakarta. Dari Maguwo, mereka menuju Yogyakarta dan berhasil menduduki ibu kota Republik Indonesia tersebut. pasukan TNI berusaha menahan serangan ini dengan sekuat tenaga, tetapi tentara Indonesia terdesak karena persenjataan dan kekuatan yang tidak seimbang. Atas perintah Panglima besar Jenderal Sudirman , pasukan TNI ditarik mundur ke hutan dan kemudian melakukan perang gerilya.

5. Serangan Umum 1 Maret 1949

Sementara itu, pasukan Republik Indonesia di bawah pimpinan panglima Besar Jenderal Sudirman terus mengadakan perang gerilya dari hutan. Dalam keadaan darurat seperti ini, pimpinan TNI menginstruksikan kepada semua komandan TNI melalui Surat Perintah Siasat No. 1 Bulan November 1948.

Serangan Umum 1 Maret 1949 merupakan salah satu pelaksanaan Surat Perintah Siasat No. 1/1948. Serangan Umum 1 Maret diakui oleh dunia internasional dan Belanda sebagai strategi militer yang luar biasa. Dengan pendudukan kota Yogyakarta oleh TNI dalam serangan yang berlangsung selama enam jam, tentara Indonesia telah mampu menghapus semua propaganda Belanda yang menyatakan Indonesia telah lenyap dari muka bumi. Bahkan, mata dunia internasional terbuka dan melihat bahwa Indonesia belum kalah. Keberhasilan Serangan Umum 1 Maret ini merupakan kerja sama dari seluruh pejuang Republik Indonesia (Kaum Republiken).

Related Posts

Posting Komentar