-->

Biografi Albert Bruce Sabin Penemu Vaksin Virus Polio

Albert Sabin diakui sebagai penemu vaksin polio yang 'hidup' tidak seperti vaksin yang dikembangkan oleh Jonas Salk yang dikenal sebagai vaksin 'mati'. Vaksin temuan Sabin telah dipakai secara luas dan berhasil menyelamatkan banyak anak dari kelumpuhan akibat penyakit polio.

Sabin lahir pada tanggal 26 Agustus 1906 di Bialystock, Polandia yang pada waktu itu masih menjadi daerah Rusia. Pada tahun 1921, ia dan keluarganya beremigrasi ke Amerika. Di sana, ia kuliah di Universitas New York dan meraih gelar dokter pada tahun 1931. Setelah itu, ia mulai melakukan penelitian tentang virus yang menjadi penyebab polio. Pada waktu itu, penyakit ini dikenal sebagai penyakit kelumpuhan bayi yang sangat ditakuti, karena bisa mengakibatkan kematian, khususnya pada bayi dan anak-anak.

Menjelang tahun 1936, sabin dan rekan-rekannya telah mampu mengembangkan virus polio pada jaringan manusia di luar tubuh. Kemudian, pada tahun 1941, Sabin menemukan bahwa virus polio masuk ke tubuh manusia lewat saluran pencernaan, bukan lewat hidung seperti yang diduga sebelumnya. Perang dunia II membuat penelitian polio yang dilakukan Sabin terhenti. Ia masuk ke dinas Angkatan Darat, di sana ia berkesempatan meneliti sejumlah penyakit yang menyerang para serdadu Amerika, seperti penyakit demam yang disebabkan lalat, demam berdarah, toksoplasmosis (sejenis penyakit yang ditularkan oleh hewan), dan lain-lain. Setelah perang selesai, Sabin kembali meneruskan penelitiannya tentang polio.

Menginjak tahun 1954, sabin telah berhasil mengembangkan vaksin pencegah penyakit polio dengan menggunakan virus hidup, bukan virus mati seperti yang digunakan Salk. Sabin percaya bahwa virus hidup yang telah dilemahkan mampu memberikan perlindungan yang lebih baik dan tahan lama daripada virus mati. Meskipun banyak dokter yang waktu itu masih ragu-ragu apakah menggunakan metode Sabin atau metode Salk, Sabin tetap teguh untuk menyelesaikan penelitiannya. Pada tahun 1961, ia berhasil menyempurnakan vaksin polionya yang kemudian digunakan secara luas setelah dicoba di berbagai tempat di dunia selama empat tahun.

Vaksin yang dikembangkan Sabin memiliki dua kelebihan dibanding vaksin buatan Salk. Pertama, vaksin tersebut bisa dimasukkan lewat mulut (diminum), bukan dengan cara disuntikkan. Kedua, vaksin itu mampu memberikan perlindungan kepada tubuh hanya dengan dosis satu kali minum saja. Sekarang, vaksin Sabin ini menjadi pilihan utama untuk penyakit polio di seluruh dunia, kecuali dalam kasus-kasus tertentu.

Perkembangan vaksin Sabin merupakan hasil dari penelitian yang dilakukan selama 20 tahun terhadap sifat, perpindahan, dan distribusi tiga jenis virus yang berhubungan. Sepanjang karir profesionalnya, Sabin dikenal sebagai peneliti yang tak kenal lelah dan brilyan. Di masa tuanya, sabin mengalihkan perhatiannya kepada penelitian tentang kemungkinan hubungan antara virus dan penyakit kanker. Atas jasa-jasanya, ia menerima banyak penghargaan, antara lain : Medali Sains Nasional (1970), Medali Kebebasan dari Presiden, dan pembuatan perangko dirinya oleh Dinas Pos Amerika. Sabin meninggal pada tanggal 3 Maret 1993 dalam usia 86 tahun.




Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter