Biografi Christian Eijkman, Tidak Semua Penyakit Diakibatkan Oleh Mikroorganisme

Posting Komentar

Christian Eijkman lahir di Belanda pada tahun 1858. Ia memperoleh gelar dokter dari Universitas Amsterdam pada tahun 1883, kemudian ia melanjutkan kuliah di Jerman dan belajar dibawah bimbingan ahli bakteri yang terkenal, Heinrich Robert Koch. Eijkman adalah orang yang pertama kali menemukan bahwa tidak semua penyakit diakibatkan oleh mikroorganisme seperti bakteri dan virus. Sebagian penyakit ternyata disebabkan oleh kekurangan zat-zat penting yang semestinya diperoleh dari makanan, khususnya kekurangan vitamin. Atas anjuran Koch, ia bergabung dengan sebuah komisi yang dikirim oleh pemerintah Belanda ke Indonesia pada tahun 1887 untuk menyelidiki penyakit beri-beri. Penelitian itulah yang kemudian melambungkan namanya.

Pada waktu itu, beri-beri merupakan wabah penyakit yang ditandai dengan terjadinya polineuritis, yakni kerusakan sayaraf yang mengakibatkan rasa baal, kelumpuhan, bahkan kematian. Karena teori kuman yang dikembangkan oleh Louis Pasteur telah menghasilkan cara-cara pengobatan berbagai penyakit dengan baik, maka para dokter pada masa itu beranggapan bahwa semua penyakit pasti diakibatkan oleh mikroorganisme. Tetapi, komisi yang dikirim oleh pemerintah Belanda tersebut tidak menemukan mikroorganisme apa pun yang menyebabkan penyakit beri-beri. Merasa kecewa dengan kenyataan tersebut, sebagian besar anggota komisi kemudian pulang ke Belanda pada tahun 1887 itu juga. Tetapi Eijkman tetap tinggal untuk memimpin laboratorium bakteriologi yang baru saja didirikan di sebuah sekolah dokter untuk orang-orang pribumi. Di sanalah Eijkman berhasil memecahkan masalah beri-beri pada tahun 1890, nyaris secara kebetulan.

Suatu saat, sekelompok ayam yang ada di laboratorium terjangkit penyakit aneh, dengan gejala yang mirip dengan polineuritis. Eijkman kemudian mengumpulkan ayam-ayam tersebut dan mencoba menemukan kuman yang menjadi penyebab penyakit, tetapi ia tidak berhasil. Dia pun tidak bisa memindahkan penyakit tersebut dari ayam yang sakit ke ayam yang sehat. Bahkan ia bertambah frustasi ketika menemukan bahwa penyakit tersebut menghilang secara tiba-tiba, sama seperti datangnya.

Untunglah Eijkman tidak putus asa. Dia tetap melanjutkan usahanya untuk mengetahui lebih banyak tentang penyakit yang hilang secara tiba-tiba tersebut. Tak lama setelah itu, ia mendapat informasi bahwa ayam-ayam tersebut telah diberi makan nasi selama beberapa hari oleh salah seorang juru masak rumah sakit. Selama diberi makan nasi, ayam-ayam tersebut ternyata mengalami gejala mirip polineuritis. Seorang juru masak yang lain berpikir bahwa tidaklah sepantasnya memberi makan nasi kepada ayam. Maka ia memutuskan untuk kembali memberi makan gabah kepada ayam-ayam tersebut. Seketika itu pula gejala penyakit seperti di atas lenyap dari ayam-ayam tersebut. Untuk meyakinkan bahwa nasilah penyebab penyakit aneh tersebut, Eijkman kemudian memberi makan nasi kepada sejumlah ayam selama beberapa waktu. Memang benar, ayam-ayam tersebut lantas mengalami gejala seperti penyakit beri-beri. Eijkman pun berhasil menyembuhkan ayam-ayam itu dengan kembali memberikan gabah sebagai makanan mereka. 

Dengan demikian, Eijkman telah menemukan penyakit yang diakibatkan ileh kekurangan gizi. Pada awalnya, dia tidak memahami arti dari penemuannya, karena dia beranggapan pasti ada sejenis racun yang terkandung dalam butir-butir beras yang bisa dinetralkan zat tertentu yang terdapat pada kulit gabah. Tetapi kegamangannya tidak berlangsung lama, karena sejumlah peneliti lain kemudian menemukan jawabannya. Ketika Eijkman terpaksa harus pulang ke Negeri Belanda pada tahun 1896 karena sakit, maka penelitian tentang nutrisi atau zat-zat penting dalam makanan yang dibutuhkan tubuh dilanjutkan oleh rekannya yang lebih muda, Gerrit Grijns. Pada tahun 1901, Gerrit menemukan bahwa penyakit beri-beri tidak disebabkan oleh kuman, tetapi oleh kekurangan zat tertentu yang terdapat pada kulit gabah dan beberapa bahan pangan yang lain. Kemudian diketahui bahwa zat tersebut adalah tiamin, suatu jenis vitamin. Selama dekade berikutnya, sejumlah peneliti, yang paling terkenal adalah Frederick Gowland Hopkins dari Inggris, menyimpulkan hal yang sama. Sejak saat itu, era baru dalam bidang kesehatan dan kedokteran pun dimulai. Atas penemuan yang selanjutnya menjadi dasar pengembangan teori modern tentang vitamin, Eijkman menerima Hadiah Nobel bidang kedokteran pada tahun 1929, bersama dengan Hopkins.

Related Posts

Posting Komentar