Biografi Edward Jenner Penemu Vaksin Cacar

Posting Komentar

Edward Jenner adalah perintis dalam bidang penelitian tentang virus dan imunisasi untuk mencegah penyakit. Penelitian yang dilakukannya didasarkan pada penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli sebelumnya yang telah berhasil menemukan beberapa jenis vaksin baru guna mengurangi penderitaan dan kematian, khususnya di kalangan anak-anak.

Jenner lahir pada tahun 1749 di Berkeley, Inggris. Ia merupakan anak keenam dari Stephen Jenner, seorang rohaniwan dari Gereja Inggris. Ayah Jenner meninggal ketika ia masih berumur lima tahun, kemudian Jenner diasuh oleh salah satu kakaknya yang juga soerang rohaniwan.

Sesuai dengan praktik yang umum berlaku pada waktu itu, jenner yang masih berumur delapan tahun dipaksa untuk melakukan puasa dan diambil darahnya serta di suntik cacar dengan harapan akan terhindar dari penyakit tersebut.

Ketika Jenner berumur tiga belas tahun, ia magang kepada seorang dokter bedah. Kemudian, pada tahun 1970, ia pindah ke London dan bekerja pada seprang ahli anatomi dan dokter bedah yang terkenal yang bernama John Hunter. Ia mengajarkan Janner untuk bersikap selalu ingin tahu dan suka melakukan percobaan dalam dunia pengobatan. Jenner kembali ke Berkeley pada tahun 1773 untuk membuka praktik sebagai dokter di daerah pedesaan tersebut. Sifat ingin tahunya yang besar telah mendorongnya untuk melakukan penelitian guna menolong para pasiennya.

Pada masa itu, cacar masih menjadi penyakit yang umum diderita di seluruh dunia. Penyakit itu menyebabkan demam tinggi dan bercak-bercak di kulit yang bisa membekas sepanjang hidup penderita.

Beberapa abad sebelum Jenner lahir, bangsa Cina telah melakukan praktik meniup bercak penderita cacar ke arah hidung orang yang masih sehat untuk membuat orang tersebut kebal terhadap penyakit cacar. Pada abad ke tujuh belas, bangsa Turki dan Yunani telah menemukan bahwa jika serum cacar disuntikkan ke dalam tubuh seseorang akan menyebabkan orang tersebut terjangkit penyakit cacar ringan dan selanjutnya menjadi kebal terhadap penyakit tersebut.

Praktik imunisasi telah dilakukan di Inggris pada abad kedelapan belas. Pada saat itu, imunisasi masih berisiko tinggi karena orang yang di imunisasi justru sering menderita penyakit cacar yang parah. Meskipun demikian, masyarakat setuju dengan imunisasi karena takut akan wabah penyakit cacar dan mereka khawatir akan menderita cacat yang parah.

Sebagai seorang dokter muda, Jenner mengamati bahwa para pekerja di peternakan sapi yang telah terkena cacar sapi ternyata lebih kebal terhadap penyakit cacar yang lebih ganas. Janner terus berusaha memperkenalkan teorinya bahwa cacar sapi yang tidak ganas bisa digunakan untuk mencegah cacar, tetapi dokter-dokter lain menolaknya. Mereka bersikukuh bahwa mereka telah menyaksikan orang-orang yang sebelumnya pernah terkena cacar sapi, tetapi masih terkena cacar juga. Karena itu, mereka beranggapan bahwa cacar sapi tidak bisa memberikan kekebalan terhadap cacar. Jadi, jelaslah bahwa tugas Jenner sungguh berat untuk mengubah agar masyarakat mempercayai kebenaran ilmu kedokteran, bukan takhayul.

Setelah mengamati kasus-kasus penyakit cacar selama bertahun-tahun, Jenner membuat langkah yang dapat menjadikannya seorang pahlawan ataupun penjahat dengan mudah. Pada tanggal 14 Mei 1796, ia mengeluarkan cairan dari bercak cacar sapi di tubuh pekerja peternakan bernama Sarah Nelmes dan menyuintikkannya ke tubuh James Phips, seorang bocah berusia delapan tahun. Segera setelah itu, anak tersebut terserang penyakit cacar sapi. Enam minggu kemudian, ia menyuntikkannya kuman cacar ke tubuh James dan ternyata si anak tetap sehat-sehat saja. Dengan demikian Jenner telah berhasil membuktikan teorinya. Jenner menamakan cara tersebut sebagai "vaksinasi" yang berasal dari kata Latin "vaccinia" yang artinya "cacar sapi".

Penerbitan tulisan Jenner yang berjudul "Penelitian Tentang Sebab dan Akibat Vaksin Variola" telah memicu permintaan vaksinasi yang meluas di seluruh Eropa. Dalam waktu 18 bulan, jumlah kematian akibat cacar di Inggris telah berkurang sebesar dua per tiga. Sampai tahun 1800, lebih dari 100.000 orang sudah divaksinasi di seluruh dunia. Sejalan dengan kenaikan permintaan vaksinasi yang pesat, Jenner menemukan bahwa ia bisa mengambil getah bening dari bercak cacar, kemudian mengeringkannya di dalam tabung kaca, sehingga bisa digunakan sampai tiga bulan kemudian. Dengan demikian, vaksin tersebut bisa dibawa dengan aman ke tempat lain.

Jenner menjadi terkenal di seantero Eropa dan Amerika Serikat. Thomas Jefferson, presiden Amerika yang ketiga, mendapatkan vaksin dari Jenner dan selanjutnya ia pun memberikan vaksin tersebut untuk seluruh anggota keluarga dan tetangganya di Monticello. Meskipun demikian, di negaranya sendiri, Inggris, teman-teman dokter yang lain tidak mengizinkannya masuk ke Persatuan Dokter di London. Mereka mendesak agar Jenner lulus ujian teori kedokteran Yunani kuno yang dikembangkan oleh Hippocrates dan Galen. Jenner tidak mau tunduk terhadap tekanan tersebut dan mengatakan bahwa keberhasilannya mengatasi cacar seharusnya sudah cukup untuk bisa diterima dalam organisasi tersebut. Karena itu, ia tidak pernah menjadi anggota perkumpulan itu.

Jenner tetap tinggal dirumahnya di daerah pedesaan dan berpraktik sebagai dokter di sana selama bertahun-tahun setelah keberhasilan penemuannya. Ia pun mengembangkan minatnya terhadap kehidupan burung, bahkan ia menulis beberapa artikel mengenai tingkah laku burung sampai ajal menjemputnya di tahun 1823. Keberhasilannya membawa pengaruh yang amat luas dan memberikan inspirasi kepada Louis Pasteur dalam penelitiannya tentang penyebab penyakit sehingga akhirnya vaksin-vaksin untuk penyakit-penyakit yang lain pun berhasil dikembangkan. Kita patut berterima kasih kepada Jenner karena berkat kegigihan dan rasa ingin tahunya yang besar, kini cacar sudah hampir bisa dibasmi secara menyeluruh.




Related Posts

Posting Komentar