-->

Cerpen Belajar dari Ketulusan Kakek (Pekik Nur S.)

Post a Comment

Sejak muncul berita tentang Covid-19 di Tiongkok, kakek lebih sering di dalam kamar. Ia mengamati dengan saksama tiap berita terkait virus yang kabarnya mematikan itu. Tidak hanya melalui televisi, ia juga mempelajari berbagai artikel di internet.

"Cepat atau lambat, virus ini akan mewabah di Indonesia. Kami harus siap," begitu kata kakek ketika ayah menanyakan tentang alasan kakek tampak begitu semangat mempelajari covid-19.

Kakek juga mengingatkan agar seluruh anggota keluarga mulai melakukan tindakan pencegahan. Kakek melarang ayah pergi keluar negeri, meskipun ayah ada rapat penting di Spanyol. Ia juga minta seluruh anggota keluarga tidak berpergian keluar kota hingga virus ini teratasi . Aku juga diminta kakek untuk membawa semprotan pencuci hama dan menggunakannya sesering mungkin.

Ya. kakekku seorang dokter ahli paru-paru. Meskipun usianya sudah lebih dari tujuh puluh, semangatnya untuk terus belajar tidak pernah diragukan siapapun. Pada usianya itu, ia bahkan masih sering mengikuti seminar tentang kesehatan.

Prediksi kakek tepat. Aku dan ayah hanya bisa terdiam ketika jumlah pasien positif virus Covid-19 di Indonesia terus meningkat. Semua televisi dan media sosial mewartakan penyebaran virus yang begitu masif.

Aku dan ayah bersyukur, di kabupaten tempat kami tinggal belum ada pasien yang positif terpapar virus yang konon bisa mematikan ini. Namun, sikap kakek belakangan ini tampak berbeda. Ia lebih sering bangun malam, salat dengan jumlah rakaat yang kata ayah sangat banyak. Ia juga lebih banyak berzikir.

"Ali, Panggil ayah dan ibumu. Ada yang ingin kakek sampaikan."

Aku segera bergegas. Setelah ayah masuk ke ruang keluarga, aku juga diminta untuk tidak meninggalkan ruangan.

Kakek mengambil napas agak dalam. "Anak dan cucuku. Mungkin malam ini malam terakhir kita bertemu."

"Maksud ayah?" Ayahku langsung memotong ucapan kakek.

"Besok pagi ayah mulai ditugaskan di ruang isolasi Covid-19 jenis baru ini. ada beberapa pasien disana. Setelah mempelajari banyaknya tenaga medis yang terkena virus ini karena berhubungan dengan pasien, ayah memutuskan untuk mengisolasi diri dirumah sakit tempat ayah bekerja. Pesan ayah, kalian harus jaga diri. Tetaplah beriman kepada Allah SWT., iringi keimanan tersebut dengan usaha untuk terus sehat. Jangan lupa untuk mendoakan kakek, baik saat kakek masih hidup maupun telah tiada."

Tentu saja tangis kami sekeluarga langsung pecah.

"Jika memang berbahaya, mengapa ayah tidak mengundurkan diri saja? Indonesia memiliki banyak dokter ahli paru-paru." Ayah berusaha merayu kakek.

"Nak ayah tidak akan mundur. Ini jalan surga ayah. Sebagai dokter, wajib bagi ayah mendarmakan pengetahuan dan keterampilan ini untuk mengupayakan kesehatan orang lain. Tentu ayah akan semaksimal mungkin untuk tidak terjangkit virus yang dahsyat ini. Namun, kita tidak mengetahui hasil akhirnya," jawaban kakek tampak sangat tegas. Ketegasan yang terlihat sebagai sebuah ketulusan yang luar biasa.

Waktu terus berlalu. Rumah memang lebih sunyi tanpa kehadiran kakek. Beberapa kali masih video call dengan kakek. Ia tampak sehat. Tampak gagah dengan pakaian APD yang dikenakannya. Kakek bercerita jika jumlah dokter sangat terbatas dan pasien terus berdatangan.

Hingga suatu hari ada pesan yang membuat tangis meledak. Kakek dinyatakan positif terpapar Covid-19. Seminggu kemudian, tersiar kabar kakek meninggal dan telah dimakamkan oleh petugas.

Tiga hari setelah kakek wafat, aku dan keluarga berziarah. Kami tentu sangat sedih. Tapi kami juga belajar dengan ketulusannya untuk orang lain. Semoga  surga yang teramat indah menjadi tempat kakekku. Juga tim medis yang gugur di medan laga.                                                                                                                                                                                                                                            

Related Posts

Post a Comment

Subscribe Our Newsletter