Mengagumi Pekerjaan Ayah

Posting Komentar

Cerpen : Pekik Nur S.

Siang itu Bu Fatimah, guru kelas kami, memberi tugas kepada seluruh siswa kelas lima untuk melaksanakan wawancara secara berkelompok. Setiap kelompok diwajibkan untuk membuat laporan hasil wawancara mengenai profesi seseorang.

Aku satu kelompok dengan Ahmad, Ibrahim, dan Maryam. Kami pun berdiskusi untuk menentukan narasumber. Untuk mempermudah, kami sepakat untuk mewawancarai salah satu dari orang tua anggota kelompok.

"Bagaimana jika kita mewawancarai ayahnya yusuf?" usul Ibrahim

"Mengapa ayahku?" aku balas bertanya.

"Menurutku profesi ayahmu paling menarik. Kita belum mengetahui tugas-tugas dan pekerjaan wartawan. ayahku dan ayahnya Ahmad berprofesi guru, pasti kita sudah mengetahui tugas-tugasnya karena setiap hari berjumpa guru di sekolah," jawab Ibrahim.

"Aku setuju. Aku juga ingin mengetahui lebih banyak tugas wartawan. Bagaimana dengan Ahmad?" Maryam yang dari tadi hanya menyimak ikut menyampaikan pendapat.

"Aku tidak hanya setuju, tetapi sangat setuju," pernyataan Ahmad membuat kami semua tertawa.

Aku pun hanya diam. Keputusan dalam diskusi sebenarnya cukup. Keputusan dalam diskusi sebenarnya cukup menggangguku. Menurutku, profesi wartawan itu tidak menarik. Bahkan, aku sering meminta ayah untuk bekerja di bidang lain. Menjadi wartawan membuat ayah sering meninggalkan rumah berhari-hari karena harus meliput acara di kota lain. Tidak hanya itu, jam kerja ayah tidak menentu. pernah ayah mendapat telepon untuk meliput sebuah peristiwa tepat ketika kami sekeluarga akan pergi ke tempat wisata.

Namun, aku harus mengikuti hasil diskusi. Aku tidak ingin dikatakan sebagai anggota kelompok yang tidak bertanggung jawab karena menolak keputusan musyawarah. terlebih, tidak ada anggota yang menolak usul Ibrahim.

Sesuai hasil diskusi, hari ini kami akan mewawancarai ayahku. teman-teman sudah berkumpul di rumahku. Kebetulan ayah hari ini tidak ada tugas meliput.

"Anak-anak apa yang ingin kalian tanyakan?" tanya Ayah.

"Apa tugas wartawan?" Ibrahim mulai pertanyaan.

"Wartawan bertugas meliput berita dan menyampaikannya kepada masyarakat umum sesuai dengan bidangnua. Wartawan media cetak menyampaikan dalam bentuk media tulis. Wartawan radio menyampaikan dalam bentuk suara atau audio. Sementara itu, wartawan televisi menyampaikannya dalam bentuk video."

"Mengapa bapak memilih pekerjaan sebagai wartawan?" Ahmad pun mengajukan pertanyaan.

"Bagi saya, menjadi wartawan adalah panggilan hati. Kalian tentu masih ingat, proklamasi kemerdekaan negara kita cepat tersebar ke berbagai negara karena peran wartawan saat itu. Nah, sejak masih muda bapak ingin mengambil peran sebagai penyebar informasi."

"Apa yang paling Bapak sukai dari profesi wartawan?" Giliran Maryam yang bertanya.

"Sebagai wartawan, saya sangat senang jika hasil liputan Bapak memberi manfaat bagi masyarakat. Beberapa waktu lalu saya pernah membuat liputan mengenai sebuah daerah yang sering kekurangan air. Alhamdulillah, setelah liputan tersebut dimuat di televisi tempat saya bekerja, banyak pihak yang peduli. Daerah tersebut kini sudah tidak pernah kekeringan karena telah dilengkapi dengan jaringan irigasi yang mengalirkan air dari waduk. Bapak juga pernah membuat liputan seorang ibu yang menderita penyakit langka, tetapi tidak mampu berobat. Setelah liputan ditayangkan, banyak pihak yang memberikan bantuan hingga si ibu bisa dirawat oleh dokter agli dari berbagai daerah."

Penjelasan demi penjelasan ayah tentu hanya kujawab dengan diam. Aku belum pernah mendapat penjelasan ayah tentang dua kisah tersebut. Tepatnya, selama ini aku tidak pernah peduli dengan hasil pekerjaan ayah di televisi. Bahkan, aku selalu enggan untuk melihat hasil liputan ayah saat ditayangkan. Aku hanya merasa kesal saat ayah pulang larut atau saat ia tidak mendampingiku dalam sebuah acara.

Sekarang aku sadar, ternyata menjadi wartawan adalah pekerjaan yang sangat mulia. Dengan menjadi wartawan, ayah bisa menolong banyak orang. Dengan menjadi wartawan, ayah bisa mengabarkan peristiwa-peristiwa penting yang terjadi.

"Selain itu, apakah ada pengalaman menarik yang pernah ayah temui selama bertugas?" aku pun ikut bertanya. 

"Wah, anak ayah sudah jadi wartawan," kata ayah yang dijawab gelak tawa temanku-temanku.

"Ayah pernah menulis berita tentang sebuah kampung yang sangat peduli untuk melakukan penghematan air. Mereka dengan sadar menyimpan air bekas untuk keperluan lain. Sebagai contoh, air bekas mencuci. Sebagai contoh air bekas mencuci sayur disimpan untuk dimanfaatkan menyirami tanaman. Air bekas mencuci baju disimpan untuk dimanfaatkan mencuci kendaraan. Bagi ayah, itu luar biasa," lanjut ayah.

Pertanyaan demi pertanyaan disampaikan untuk dijawab ayah . Seluruh jawaban sudah ditulis oleh tiap anggota kelompok untuk didiskusikan dan dibuat laporan. Tidak terasa hari sudah sore. Ahmad, Maryam, dan Ibrahim harus pulang. Aku mengantar mereka hingga ke depan pintu.

Setelah teman-teman pulang, aku mendekati ayah. Kuucapkan permohonan maaf karena selama ini tidak bangga dengan pekerjaan yang ayah tekuni. Pekerjaan luar biasa yang digunakan ayah untuk menafkahiku dan keluarga.



Related Posts

Posting Komentar